ANOMIE PEMICU TANGISAN IBU PERTIWI
Penafsiran
akan sebuah perkembangan zaman memang sangat berbeda-beda ada yang lebih
terfokus pada teknologi, bahasa, maupun dalam style kehidupannya. Semua
itu sah-sah saja selama masih berada dijalan yang sesuai dengan adat ketimuran
yang tentunya dianut masyarakat indonesia . Namun yang sangat ironis
akhir-akhir ini, sepertinya para generasi muda justru cenderung menafsirkan
akan sebuah perkembangan zaman saat ini kearah yang terlalu “kebablasan”,
sehingga bukannya menimbulkan efek yang positif akan kehidupannya, akan tetapi
menjadi sebaliknya hal tersebut menjadi boomerang yang lambat laun
menghancurkan identitas bangsa kita. Padahal kita ketahui juga bahwa para
generasi muda adalah para calon penerus bangsa kita, lalu apa yang akan terjadi
bila para penerus tersebut sudah tidak mempunyai jati diri bangsa, tentu saja kehancuran
bangsa ini sudah semakin dekat, bisa dirasakan untuk saat ini saja, berbagai anomie telah mulai banyak bermunculan.
Kata
anomie mungkin terdengar asing,
padahal kata ini sudah muncul dari abad ke-19 yang dicetuskan oleh Emile
Durkheim seorang sosiolog dari Prancis. Kata ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani a-: "tanpa", dan nomos:
"hukum" atau "peraturan". Secara sederhana anomie ini dapat diartikan sebagai
kekacauan, ketidakpedulian atau pelanggaran hukum baik pada diri individu
maupun pada masyarakat. Robert King Merton mendefinisikan anomie sebagai kesenjangan antara tujuan-tujuan sosial bersama dan
cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dengan kata lain,
individu yang mengalami anomie akan
berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama dari suatu masyarakat tertentu, namun
tidak dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan sah karena berbagai
keterbatasan sosial. Akibatnya, individu itu akan memperlihatkan perilaku menyimpang untuk memuaskan dirinya sendiri.
Banyak contoh anomie yang terjadi akhir-akhir ini dan yang paling gencar
diberitakan yaitu mengenai tawuran antar pelajar. Dimana pada awalnya anomie tersebut terjadi hanya kepada
para individu dari pelajar saja yang secara tidak sadar kumpulan
individu-individu tersebut bersatu karena memiliki kesamaan dalam dirinya yang
akhirnya membuat kumpulan-kumpulan kecil atau dikalangan remaja lebih sering disebut
dengan “genk”. Dari situlah anomie
yang awalnya sebagai kekacauan individu berubah menjadi anomie sebagai kekacauan masyarakat, hal itu dikarenakan akibat
yang ditimbulkan dari kelompok tersebut ketika mereka tawuran akan berimbas
pada masyarakat. Seperti tawuran yang terjadi baru-baru ini antara SMAN 6
Jakarta dengan SMAN 70 Jakarta, dimana bukan hanya menelan korban jiwa saja,
tetapi pengaruhnya semakin panjang dengan meningkatnya keresahaan masyarakat
terutama para orang tua yang mempunyai anak yang masih bersekolah selain itu
ketakutan juga banyak melanda para pengguna angkutan umum maupun para pengguna
jalan raya yang merasa takut bila terjebak dalam tawuran yang mungkin saja akan
terulang kembali. Banyak faktor yang berpengaruh dalam masalah ini terutama terbatasnya
figure atau tokoh yang dapat menjadi
contoh atau panutan bagi para generasi muda merupakan salah satu alasan yang
paling mendasar mengapa para generasi muda cenderung hanya mengikuti perkembangan
zaman yang berjalan tanpa mempunyai filter
dan arahan dari seorang yang dipanutinya sehingga tidak salah bila para
generasi muda yang dalam keadaan sedang ingin terus mencoba hal-hal yang baru mengadopsi
segala pengaruh perkembangan zaman hingga yang negatif-pun ikut masuk dan
celakanya pengaruh tersebutlah yang terkadang mendominasi sikap dan perilaku
para generasi muda. Tapi tidak sepenuhnya pengaruh negatif yang terjadi
sekarang di masyarakat merupakan pengadopsian dari perkembangan zaman itu saja,
sedikit mengulas sebuah peribahasa yang berbunyi “semut diseberang pulau
terlihat, akan tetapi gajah dipelupuk mata tak terlihat” peribahasa diatas
mencerminkan akan apa yang terjadi saat ini di masyarakat, kecendrungan yang
terjadi saat ini bahwa masyarakat mungkin terlalu mengkambing hitamkan perkembangan
zaman (pengaruh dari luar ), padahal sebenarnya banyak pengaruh negatif yang
berkembang di masyarakat saat ini berasal dari negeri sendiri, seperti banyaknya kasus korupsi
maupun banyaknya tindakan-tindakan anomie
dari para public figure. Instropeksi
diri merupakan pemecahan yang paling kecil dapat dilakukan semua orang, jangan
mudah terpengaruh, terpancing dan terintimidasi gunakanlah pemikiran yang
jernih dan rasional karena hal itulah yang dapat menghentikan tangisan berbagai
tindakan anomie , jangan hanya karena
masalah ini Ibu Pertiwi menangis.
“Kulihat
Ibu Pertiwi sedang bersusah hati air matamu berlinang mas intan yang kau
kenang”
Masih
ingatkah akan petikan lagu diatas, lagu yang pada saat kecil sering dinyanyikan
sebagai lagu wajib di sekolahan dasar namun untuk sekarang mungkin sudah banyak
masyarakat yang melupakannya. Padahal
esensi akan lagu ini bukan hanya sekedar
lagu wajib yang sederhana akan tetapi lebih dari itu, apalagi makna yang
terkandungnya. Secara tersirat dalam
lagu tersebut sangat mewakili kekayaan yang dimiliki negeri ini dengan begitu melimpahnya berbagai sumber
daya yang tersedia, namun segala kekayaan dan kelebihan yang dimiliki negeri ini ternyata masih belum mampu untuk dapat
mensejahterakan rakyatnya bahkan tak jarang kekayaan dan kelebihan ini sebagai
pemicu tindakan anomie di masyarakat
karena hal itulah dikisahkan seakan-akan bahwa “Ibu Pertiwi Menangis”. Tentunya
tidak ada yang berharap bahwa lagu ini akan benar-benar menjadi kenyataan,
karena tidak mungkin sang composer
sengaja membuat lagu ini sebagai do’a untuk menjadi kenyataan, mungkin hanya
sekedar berupa kritikan agar hal ini tidak menjadi nyata. Meskipun dalam
kondisi realnya tidak ada yang
mengelak bahwa secara perlahan lagu tersebut benar-benar terjadi.
narasumber/penulis: Nirma Diniyati