ketika sakit obatlah penawarnya
ketika sedih hiburanlah obatnya
ketika tidak mengerti tanyalah
ketika dalam masalah doa lah obatnya
karena Allah SWT slalu ada untuk kita....

Minggu, 30 Desember 2012

ANOMIE PEMICU TANGISAN IBU PERTIWI


udah lama ga ngepost, beruntunglah ini blog ga jadi sarang laba-laba,atau pun sarang kuntilanak,apa lagi rayap. itu ga ada semua. kebetulan nih, ada artikel temen yang menarik dan akhirnya saya coba buat posting di sini. siapa tau teman -teman ada yang baca, ini salah satu artikel temen saya,seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. asli sama kaya saya,mojang bandung,hehehe,Nirma Diniyati namanya. ini artikel bagus, menceriterakan kehidupan yang terjadi di negeri tercinta kita ini, yuk dibaca....
 ANOMIE PEMICU TANGISAN IBU PERTIWI
Penafsiran akan sebuah perkembangan zaman memang sangat berbeda-beda ada yang lebih terfokus pada teknologi, bahasa, maupun dalam style kehidupannya.  Semua itu sah-sah saja selama masih berada dijalan yang sesuai dengan adat ketimuran yang tentunya dianut masyarakat indonesia . Namun yang sangat ironis akhir-akhir ini, sepertinya para generasi muda justru cenderung menafsirkan akan sebuah perkembangan zaman saat ini kearah yang terlalu “kebablasan”, sehingga bukannya menimbulkan efek yang positif akan kehidupannya, akan tetapi menjadi sebaliknya hal tersebut menjadi boomerang yang lambat laun menghancurkan identitas bangsa kita. Padahal kita ketahui juga bahwa para generasi muda adalah para calon penerus bangsa kita, lalu apa yang akan terjadi bila para penerus tersebut sudah tidak mempunyai jati diri bangsa, tentu saja kehancuran bangsa ini sudah semakin dekat, bisa dirasakan untuk saat ini saja, berbagai anomie telah mulai banyak bermunculan. 

Kata anomie mungkin terdengar asing, padahal kata ini sudah muncul dari abad ke-19 yang dicetuskan oleh Emile Durkheim seorang sosiolog dari Prancis. Kata ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani a-: "tanpa", dan nomos: "hukum" atau "peraturan". Secara sederhana anomie ini dapat diartikan sebagai kekacauan, ketidakpedulian atau pelanggaran hukum baik pada diri individu maupun pada masyarakat. Robert King Merton mendefinisikan anomie sebagai kesenjangan antara tujuan-tujuan sosial bersama dan cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dengan kata lain, individu yang mengalami anomie akan berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama dari suatu masyarakat tertentu, namun tidak dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan sah karena berbagai keterbatasan sosial. Akibatnya, individu itu akan memperlihatkan perilaku menyimpang untuk memuaskan dirinya sendiri.

Banyak contoh anomie yang terjadi akhir-akhir ini dan yang paling gencar diberitakan yaitu mengenai tawuran antar pelajar. Dimana pada awalnya anomie tersebut terjadi hanya kepada para individu dari pelajar saja yang secara tidak sadar kumpulan individu-individu tersebut bersatu karena memiliki kesamaan dalam dirinya yang akhirnya membuat kumpulan-kumpulan kecil atau dikalangan remaja lebih sering disebut dengan “genk”. Dari situlah anomie yang awalnya sebagai kekacauan individu berubah menjadi anomie sebagai kekacauan masyarakat, hal itu dikarenakan akibat yang ditimbulkan dari kelompok tersebut ketika mereka tawuran akan berimbas pada masyarakat. Seperti tawuran yang terjadi baru-baru ini antara SMAN 6 Jakarta dengan SMAN 70 Jakarta, dimana bukan hanya menelan korban jiwa saja, tetapi pengaruhnya semakin panjang dengan meningkatnya keresahaan masyarakat terutama para orang tua yang mempunyai anak yang masih bersekolah selain itu ketakutan juga banyak melanda para pengguna angkutan umum maupun para pengguna jalan raya yang merasa takut bila terjebak dalam tawuran yang mungkin saja akan terulang kembali. Banyak faktor yang berpengaruh dalam masalah ini terutama terbatasnya figure atau tokoh yang dapat menjadi contoh atau panutan bagi para generasi muda merupakan salah satu alasan yang paling mendasar mengapa para generasi muda cenderung hanya mengikuti perkembangan zaman yang berjalan tanpa mempunyai filter dan arahan dari seorang yang dipanutinya sehingga tidak salah bila para generasi muda yang dalam keadaan sedang ingin terus mencoba hal-hal yang baru mengadopsi segala pengaruh perkembangan zaman hingga yang negatif-pun ikut masuk dan celakanya pengaruh tersebutlah yang terkadang mendominasi sikap dan perilaku para generasi muda. Tapi tidak sepenuhnya pengaruh negatif yang terjadi sekarang di masyarakat merupakan pengadopsian dari perkembangan zaman itu saja, sedikit mengulas sebuah peribahasa yang berbunyi “semut diseberang pulau terlihat, akan tetapi gajah dipelupuk mata tak terlihat” peribahasa diatas mencerminkan akan apa yang terjadi saat ini di masyarakat, kecendrungan yang terjadi saat ini bahwa masyarakat mungkin terlalu mengkambing hitamkan perkembangan zaman (pengaruh dari luar ), padahal sebenarnya banyak pengaruh negatif yang berkembang di masyarakat saat ini berasal dari negeri  sendiri, seperti banyaknya kasus korupsi maupun banyaknya tindakan-tindakan anomie dari para public figure. Instropeksi diri merupakan pemecahan yang paling kecil dapat dilakukan semua orang, jangan mudah terpengaruh, terpancing dan terintimidasi gunakanlah pemikiran yang jernih dan rasional karena hal itulah yang dapat menghentikan tangisan berbagai tindakan anomie , jangan hanya karena masalah ini Ibu Pertiwi menangis.

“Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati air matamu berlinang mas intan yang kau kenang” 

        Masih ingatkah akan petikan lagu diatas, lagu yang pada saat kecil sering dinyanyikan sebagai lagu wajib di sekolahan dasar namun untuk sekarang mungkin sudah banyak  masyarakat yang melupakannya. Padahal esensi  akan lagu ini bukan hanya sekedar lagu wajib yang sederhana akan tetapi lebih dari itu, apalagi makna yang terkandungnya.  Secara tersirat dalam lagu tersebut sangat mewakili kekayaan yang dimiliki negeri  ini dengan begitu melimpahnya berbagai sumber daya yang tersedia, namun segala kekayaan dan kelebihan yang dimiliki negeri  ini ternyata masih belum mampu untuk dapat mensejahterakan rakyatnya bahkan tak jarang kekayaan dan kelebihan ini sebagai pemicu tindakan anomie di masyarakat karena hal itulah dikisahkan seakan-akan bahwa “Ibu Pertiwi Menangis”. Tentunya tidak ada yang berharap bahwa lagu ini akan benar-benar menjadi kenyataan, karena tidak mungkin sang composer sengaja membuat lagu ini sebagai do’a untuk menjadi kenyataan, mungkin hanya sekedar berupa kritikan agar hal ini tidak menjadi nyata. Meskipun dalam kondisi realnya tidak ada yang mengelak bahwa secara perlahan lagu tersebut benar-benar terjadi.
narasumber/penulis: Nirma Diniyati